Sejarah Dan Makna Hari Kebangkitan Nasional - Ditpolairud Polda Jambi

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

26.5.15

Sejarah Dan Makna Hari Kebangkitan Nasional

Oleh :AKBP H. DADANG DJOKO KARYANTO, AMd Mar, SH, SIP, MH. Kegiatan peringatan dan upacara pada tanggal 20 Mei dalam rangka HARKITNAS (Hari Kebangkitan Nasional) yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah (Kementerian, kelembagaan, Badan) baik tingkat pusat maupun daerah setiap tahunnya rutin diselenggarakan, dan pada saat peringatan pastilah dibacakan pidato sambutan Menkoinfo oleh pejabat inspektur upacara. Yang menjadi pertanyaan kita semua adalah Mengapa setiap tanggal 20 mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional? Maka jawabannya adalah : Karena pada tanggal 20 mei adalah tanggal berdirinya organisasi Boedi Oetomo, Boedi Oetomo organisasi kepemudaan yang pertama yang memiliki cita-cita Indonesia yang merdeka. Pada awalnya mereka tidak bergerak di bidang politik, melainkan pendidikan dan sosial. Pergerakan mereka adalah dalam rangka mencari Indonesia yang merdeka dan menginspirasi terbentuknya organisasi-organisasi kepemudaan lain yang bertujuan mendukung dan meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia raya yang berdaulat. Karena nilai-nilai Kebangkitan Nasional yang diperjuangkan para pendahulu kita telah menjadi perekat jalinan persatuan dan kesatuan diantara kekuatan dan komponen bangsa. Pergerakan organisasi kepemudaan Boedi Oetomo dan yang lainnya telah memberi semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan, bertujuan mengejar ketertinggalan dan membebaskan diri dari keterbelakangan. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar perjuangan para pemuda yang kemudian pada tanggal 20 Mei 1908 terorganisasi dalam wadah pergerakan bernama Boedi Oetomo. Dari sinilah kemudian semangat nilai-nilai persatuan dan kesatuan ini semakin mengkristal dan menjadi suatu kekuatan moral bangsa sebagaimana tertuang dalam ikrar Soempah Pemoeda, pada tanggal 28 Oktober 1928. Perjuangan panjang yang ditempuh oleh bangsa Indonesia tersebut, akhirnya para pemuda pada masa tempo 1945 berupaya mencapai kemerdekaan bangsanya dengan memproklamirkan kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai bangsa yang Merdeka dari penjajahan. Intinya untuk mengenang jasa mereka dan untuk terus mengokohkan, menguatkan dan memelihara semangat kebangkitan Nasional. Budi Utomo (ejaan van Ophuijsen: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua" yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu. Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, mantan Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dariKeraton Pakualaman. Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air api udara" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya. Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain,Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah. Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi. Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku. Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting. Bagaimana relevansi peringatan HARKITNAS (hari kebangkitan nasional) pada saat ini dikaitkan dengan kemajuan bangsa yang mana situasi dan kondisi pastilah berbeda jika dibandingkan dengan situasi pada masa tahun 1908 hingga menjelang kemerdekaan NKRI? Kemerdekaan bangsa Indonesia telah sukses diraih namun yang paling sulit adalah mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia ini dari disintegrasi bangsa, sulitnya mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Pada era millennium saat ini egosentris, sifat individual telah merambah dimana-mana, minimalisnya kepedulian terhadap nasib bangsa yang dirundung keprihatinan karena generasinya banyak yang terlibat Narkoba, budaya acuh yang telah menebar diseluruh lapisan. Era globallisasi telah menjadi pilihan dan kesepakatan nasional. Kemajuan industri yang mengacuhkan dan melalaikan peran lingkungan hidup, kehidupan politik yang cenderung menghalalkan segala cari untuk mencapai tujuannya menjadi penyakit kanker yang mengerikan. Liberalisme telah merasuki kehidupan berbangsa dan bernegara. Sadarkah Kapitalis mencoba untuk merangsek dalam berbagai sisi kehidupan perekonomian bangsa yang kita cintai ini. Semoga situasi yang demikian menjadi perhatian dan keprihatinan kita bersama..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here